Mengenal Tingkatan Konsep Diri

“Jika tidak mengenal diri, bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?”

Eby Sofyan
2 min readJul 19, 2020
Photo By Jake Oates https://unsplash.com/photos/oQ-Y9OvEVBo

Mengenal diri merupakan hal yang penting bagi masing-masing orang. Dengan mengenal diri maka seseorang bisa memaksimalkan segala potensi yang ada didalam dirinya. Kebanyakan orang hanya mengenal dirinya sebatas apa yang tampak pada dirinya, tetapi jarang mencari apa yang tersembunyi di dalam dirinya. Hal itulah yang membuat potensi yang tersembunyi dalam diri sulit untuk di maksimalkan.

Sebagai seorang muslim, mengenal diri merupakan sebuah keharusan. Didalam buku Model Manusia Muslim Pesona Abad 21 yang ditulis oleh H.M. Anis Matta, LC dikatakan Ibnul Qayyim mengatakan ada 2 pengetahuan yang terpenting yaitu Ma'rifatullah dan Ma'rifatunnafs. Maksudnya adalah “Mengetahui Allah berarti mengetahui tujuan hidup. Mengetahui diri artinya mengantar bagaimana sampai ke tujuan”.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya . . . (QS. Al Baqarah, 2: 286)

Berdasarkan buku Model Manusia Muslim Pesona Abad 21, ada 3 tingkatan konsep diri yaitu:

  1. Aku Diri
  2. Aku Sosial
  3. Aku Ideal

Aku Diri

Aku seperti yang aku pahami

Aku Diri meruapakan cara kita mempersepsikan diri kita. Setiap kita memiliki pemahaman seperti itu adanya. Ada pemahaman yang terbentuk secara tidak sadar, tetapi diketahui seperti yang kita pahami.

Aku Sosial

Aku seperti yang dipahami oleh orang lain yang ada disekitar aku

Aku Sosial merupakan cara orang memahami kita. Aku sosial bergantung terhadap bagaimana orang-orang disekitar kita memberi nilai terhadap kita. Misalkan ada orang yang memberikan nilai pada diri kita bahwa kita itu orang yang humoris. Maka ketika kita bertemu dengan orang tersebut, kesan pertama yang dia ingat ketika berjumpa dengan kita adalah “Oh ini si A yang humoris”.

Contoh lainnya adalah bagaimana respon orang-orang sekitar dengan kegiatan atau capaian yang kita peroleh. Misal, di semester genap kita mendapat nilai rata di grade C, kemudian orang-orang yang kita anggap penting dan berpengaruh merespon kalau nilai C itu sudah cukup bagus. Maka semester selanjutnya kita akan menjadikan nilai C itu sebagai standarisasi atas capaian yang ingin didapatkan. Maka hanya sebatas nilai C itulah usaha yang akan kita berikan untuk kegiatan tersebut.

Aku Ideal

Aku yang aku inginkan

Aku Ideal merupakan aku yang seharusnya ada dalam aku. Aku ideal harus berkaitan erat dengan aku diri. Seringkali ada orang yang begitu kuat keyakinannya terhadap aku idealnya tapi lupa sama aku diri.

Aku ideal yang tidak memiliki korelasi yang kuat dengan aku diri disebut sebagai pemimpi

Nah, ketiga aku tersebut yang membentuk cara kita memahami diri kita. Ada orang yang kuat pada aku dirinya, atau pada aku sosialnya, atau pada aku idealnya, atau bahkan kombinasi dari beberapa aku dalam dirinya seimbang. Nah yang seimbang inilah yang bisa memahami dirinya, artinya bisa menempatkan akunya berdasarkan situasi dan kondisi.

Sebagai penutup, Abu Bakar pernah mengajarkan suatu do’a

Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku. Dan jadikanlah aku lebih dari apa yang mereka duga.

Sekian, semoga bermanfaat . . .

--

--

Eby Sofyan

Software developer with almost 3 years experience especially in Backend and Android Developmnet. Using Django and Kotlin as weapon.